Showing posts with label Software Tech. Show all posts
Showing posts with label Software Tech. Show all posts

Friday, March 20, 2009

Sekadar header

Pengguna email yahoo mungkin terbiasa dengan tampilan baru di yahoo mail. Dengan ragam bingkai dan tabulasi pesan yang dibaca, Yahoo berusaha untuk tampil seperti tampilan email client lainnya. Bahkan terdapat enhancement fitur dengan menanamkan link untuk chat sembari membaca dan membalas email.

Fitur baru ini rupanya merupakan hasil elaborasi mendalam tentang kebiasaan dasar dari jejaring sosial. Bagi yang akrab dengan facebook, twitter, friendster, yahoo, ataupun gtalk, kebutuhan informasi dasar selalu disajikan dalam bentuk short message yang sifatnya instan. baik info tersebut soal status, opini, ataupun sekadar iklan mini. Ke-instan-an ini juga terkait dengan kebiasaan dasar jejaring sosial, yaitu percakapan.

Merespon itu semua tentu dibutuhkan adaptasi kebiasaan terutama dengan pengayaan konten dan fitur yang disajikan. Adaptasi ini terasa menyulitkan ketika infrastruktur jaringan berada di batas minimum. Apapun itu adaptasi kebiasaan ini agak menyulitkan ketika dikombinasi dengan kebiasaan memberikan komentar panjang dan bukan pesan instan.

Berkaca dari pertumbuhan penyuka mie instan. Optimisme tumbuh bahwa jumlah pengguna aktif komunikasi berbasis pesan instan akan melaju kencang dibandingkan pengguna aktif komentas panjang. Semoga hal ini akan memicu para penyedia layanan blog untuk memberikan fitur komunikasi berbasis pesan instan.

 

Technorati Tags: , ,

Baca Lebih Lanjut......

Wednesday, January 30, 2008

Optimasi Anggaran Inventori : Pemanfaatan ERP pada rantai pasok

Pemakaian ERP dalam perusahaan manufaktur telah lama dilakukan, umumnya dilakukan pada pengelolaan keuangan dan produksi. Pemanfaatan ERP dalam menangani ketersediaan stok merupakan salah satu alternatif kebijakan manajemen perusahaan dalam menekan biaya operasi. 

Konsep Just In Time dalam pengelolaan inventori material produksi, merupakan contoh yang spektakuler penerapan IT dalam pengelolaan rantai pasok produksi perusahaan. Konsep ini juga pada saat implementasinya sangat bergantung pada kemampuan infrastruktur IT di lingkungan produksi dan rekan kerja pemasok dalam siklus rantai pasok yang ada.

Kembali pada topic tulisan ini, ketersediaan barang penting ketika sistem pengelolaan inventori telah mengalami perluasan dari sekadar pusat distribusi terpusat (central distribution center (CDC)), kemudian menaungi beberapa pusat distribusi tersebar (regional distribution center (RDC)). 

Kemampuan pengelolaan yang mampu memprediksi kebutuhan dan mengatasi permintaan mendadak dari RDC ke CDC menjadi kunci optimasi dengan dukungan teknologi informasi.
Ada dua tantangan yang menghadang dalam optimasi di atas, yaitu : 
  1. Memaksimalkan luas cakupan CDC.
  2. Meminimalkan total biaya sistem dengan cakupan yang ada.

Komponen biaya yang perlu diperhitungkan juga cukup kompleks, meliputi biaya tetap dan biaya tambahan terkait dengan proses pergudangan, transportasi dan pengolahan pesanan (order, yang meliputi rush order, back order, maupn normal order). 
Proses optimasi dilakukan dengan melalui dua tahap yaitu : 
  • Kalkulasi EOQ (economic order quantity), yaitu besaran optimum order yang mungkin terjadi dan besaran paket optimum yang dibutuhkan untuk tiap SKU (Stock Keeping Unit).
  • Optimasi anggaran, yaitu dengan memilih SKU yang akan ditempatkan di gudang regional. Keputusan ini memungkinkan diketahuinya safety stock  (rencana penyimpanan di gudang) dan reorder point (rencana tingkat ketersediaan barang di gudang yang memicu permintaan pasok barang ke gudang).

Kebutuhan Sistem IT

Kebutuhan sistem IT meliputi sistem informasi perencanaan optimasi inventori  dan sistem ERP. Secara sistem ERP memang memungkinkan untuk menghitung EOQ, tetapi kurang mampu untuk menangani kebutuhan kritis sistem seperti:
  1. Kalkulasi ukuran paket optimal sesuai dengan biaya nyata (real cost) yang terjadi. Tingkat kerincian kalkulasi EOQ umumnya belum didukung oleh sistem ERP, dan menyulitkan dalam memodelkannya.
  2. Keterbaruan dan integrasi dalam memberikan keputusan sebuah SKU akan dipasok dan disimpan baik secara terpusat maupun tersebar di regiona, belum sepenuhnya mampu didukung oleh sistem ERP yang ada da saat ini.
  3. Kesibukan pesanan yang terjadi antaran RDC ke CDC dapat dikategorikan pada dua hal yaitu : 
o Back order, yaitu permintaan yang dilakukan karena tidak tersedianya SKU di gudang regional.
o Rush order karena stock out, yaitu permintaan yang dilakukan untuk menutupi batas ketersediaan SKU yang minim walaupun secara normal telah dilakukan order, namun ketersediaannya di gudang regional diperkirakan terlambat. Dengan kondisi ini sangat dimungkinkan terjadi Rush Order Reorder Point (ROROP). Sistem ERP saat ini belum cukup mampu untuk menangani analisis seperti ini.
  1. Ketersediaan SKU juga terkait dengan tingkat layanan (service level) dari distribusi rantai pasok. Kalkulasi yang merupakan gabungan dari perhitungan distribusi permintaan, lead time, keragaman lead time variability, tipikal service-level, EOQ, dan kuantitas permintaan, memerlukan enhancement sistem ERP.

Salah satu cara implementasi optimasi biaya ini ialah dengan memanfaatkan sistem SAP sebagai basis ERP (khususnya modul Material Management dan Sales Distribution) dan melengkapinya dengan modul APO (Advanced Planning Optimization) dan modul IBM DIOS (Dynamic Inventory Optimization Solution) untuk memberikan kemampuan inference pada sistem.


Optimasi Biaya

Optimasi biaya dilakukan dengan memanfaatkan IT untuk secara terintegrasi merencanakan, mengendalikan dan mengoptimalkan anggaran operasi melalui cara :
  1. Menurunkan biaya, yaitu dengan simulasi dan menghitung kebutuhan optimum biaya serta meminimumkan anggaran yang digunakan untuk mencapai kelompok tingkat layanan penyediaan yang diinginkan.
  2. Memaksimalkan layanan ketersediaan stock dengan tingkat layanan yang telah ditetapkan.
Cara pertama dapat dilakukan secara cepat dengan memanfaatkan sistem komputasi dan algoritma pemodelan yang telah ada. Cara kedua dilakukan dengan memberikan kemampuan inference (menyimpulkan) pada sistem sesuai dengan kasus yang terjadi melalui skema analisa what – if.  Pemakaian skema analisa what – if ini memungkinkan sistem untuk secara adaptif melakukan penyimpulan terhadap gejala masalah sesuai dengan kebutuhan prilaku perusahaan.

Anggaran yang dioptimasikan merupakan kompromi antara komponen biaya :
  1. Ukuran optimal paket yang merupakan biaya tetap penanganan paket per order line. Biaya variatif penanganan paket per order line dan biaya tambahan penanganan paket per rush order. 
  2. Biaya Transportasi yang merupakan biaya transport material per kg untuk rush order, back order, dan normal order.
  3. Stock holding rate yang meliputi laju suku bunga mata uang dan laju depresiasi material.  
  4. Biaya ruangan gudang per meter kubik. 
  5. Komponen biaya di atas merupakan sasaran meminimumkan biaya dan memuat faktor hukuman penalty jika tidak dapat diraih. Melalui pendekatan ini, disiplin pengelolaan dapat terbentuk melalui implementasi IT. 


Hasil Implementasi 

Implementasi sistem IT untuk optimasi biaya pada pengelolaan logistic di atas yang telah dilakukan pada perusahaan manufaktur spare-part otomobil di jerman memberikan hasil  penting yaitu : 
  1. Waktu yang dibutuhkan untuk menghitung optimasi biaya yang relatif singkat yaitu selama kurang lebih 20 menit untuk perhitungan 70.000 SKU pada mesin komputasi IBM T-41 thinkpad.
  2. Kualitas optimasi yang dapat dilakukan dengan bergerak sesuai dengan kebutuhan yaitu minimum budget atau maksimum tingkat Pelayanan.
  3. Pemanfaatan sistem selama dua tahun setidaknya telah mecatat bahwa tiap minggu, SKU yang disimpan RDC untuk melayani dealer cukup 70 persen dengan perubahan berkisar 1%.  Kepuasan tingkat layanan mencapai target tingkat layanan dengan variasi 0,2%. 
  4. Keuntungan ini tentunya memberikan nilai tambah penting bagi perusahaan dan mendukung tercapainya standarisasi kualitas operasi yang dilakukan. 

Baca Lebih Lanjut......

Tuesday, November 20, 2007

Mengenal Jakarta - Struts

Bila kita membangun aplikasi web berbasiskan Java, kita akan membangun aplikasi ini dengan menggunakan Java Server Pages (JSP) dan Java Servlet agar aplikasi web yang kita bangun menjadi lebih interaktif. Selama kita mengerjakan pembangunan aplikasi web tersebut, tentu kita juga akan mulai mengenal kata framework Java, yang membantu dalam menstrukturkan aplikasi web kita menjadi lebih ramping, ringkas, konsisten dan sistematik dengan cara yang lebih cepat.



Jakarta struts merupakan salah satu framework aplikasi web dinamis yang berbasiskan open-source. Selayaknya framework, Struts menstrukturkan semua komponen aplikasi web berbasiskan java dalam satu kesatuan. Komponen-komponen ini antara lain:
  • Java Servlets : Program yang ditulis dengan bahasa Java dan ditempatkan pada server web berfungsi merespon permintaan (request) pengguna.
  • Java ServerPages : Teknologi untuk menghasilkan halaman web baik dengan content yang statis maupun dinamis.
  • Java Beans : Komponen yang berfungsi sesuai fungsional tertentu, seperti naming conventions.
  • Business Logic : kode yang diimplementasikan untuk fungsi atau peran sesuai deskripsi kebutuhan aplikasi yang dibangun.

Jakarta Struts menggunakan paradigm khusus atau pola desain dalam mengatur struktur aplikasi. Dengan struktur pola desain yang ada, memudahkan untuk pengembangan aplikasi dengan menyesuaikan dengan pola yang ada. Pola desain yang digunakan dalam ialah Pola desain M-V-C (Model – View – Controller). Melalui pola desain ini, memungkinkan pengembangan aplikasi seperti mengisi rangkaian teka-teki yang mengatur struktur aplikasi mencapai fleksibilitas maksimum dan efisiensi.

Struktur Aplikasi Web

Aplikasi Web dikenal sebagai aplikasi yang ditempatkan pada server web dan menghasilkan halaman statis ataupun dinamis dalam format bahasa mark-up language, umumnya dalam bentuk HTML, dalam merespon permintaan user. Dimana user biasanya menggunakan browser web untuk mengakses aplikasi dan menggunakan event OnClick pada link di halaman web untuk melakukan permintaan.

Web Container merupakan aplikasi yang digunakan untuk mengelola komponen dari aplikasi web, dalam hal ini JSP atau Java Servlet. Web Container ini memiliki beberapa fungsi yaitu :

  • Keamanan : Mengatur aksesbilitas pada komponen aplikasi, seperti proteksi password.
  • Concurrency : Kapabilitas untuk memproses lebih dari satu action pada satu saat.
  • Life-cycle : pengelolaan proses untuk memulai (starting-up) dan menghentikan operasi (Shutting-down) komponen aplikasi.

Pada beberapa kalangan web container dikenal juga sebagai JSP/Servlet Container. Apache Tomcat merupakan contoh dari web container, dan saat ini merupakan web container yang cukup popular dalam pengembangan aplikasi web. Umumnya web container juga dapat berfungsi sebagai web server. Apache Tomcat juga memiliki kapabilitas untuk berlaku sebagai web server ataupun web container.

Java Servlet merupakan perluasan (extend) dari HttpServlet Class, yang merupakan basis dari semua Servlet, yang menangani request dinamis pada halaman web. Servlet dijalankan dalam web container dan memungkinkan Java untuk menjawab request dari CGI (Common Gateway Interface) Script.


Java ServerPage digunakan untuk menampilkan informasi dinamis ke user melalui halaman web. JSP memiliki struktur seperti HTML page, namun juga memiliki beragam JSP tags, atau penyisipan java scriplet (fragmen kecil java code). JSP tags dan scriplet ini diproses di sisi server untuk membuat tampilan konten dinamis, sehingga halaman web ini dapat memodifikasi tampilan konten sesuai dengan request user. Ketika seorang user melakukan request melalui halaman JSP, permintaan ini akan dikirim ke web server dan diolah dengan menggunakan web container. Web container akan segera melakukan translasi dari request JSP tags tadi ke bentuk servlet, setelah ditranslasikan, code servlet ini akan dikompilasi menjadi kode eksekusi byte code (Runnable Byte Code) untuk mengolah request user. Hasil eksekusi akan diambil oleh result servlet untuk dikirimkan kembali dalam bentuk halaman web ke user. Proses translasi ini hanya berlaku untuk pertama kali user mengakses halaman JSP. Tiap kali halaman JSP ini berubah, web container akan melakukan translasi ke servlet sesuai dengan perubahan.

JSP mendefinisikan enam tipe elemen tag yaitu :

  • Action : Mengikuti format XML dan selalu diawali dengan . Ini memungkin untuk menambahkan fungsionalitas pada JSP seperti menginisiasi atau menggunakan java bean.
  • Directive : Pesan untuk web container yang memberitahukan property halaman, spesifikasi library tag, atau subsitusi teks atau kode saat dilakukan translasi. Formatnya adalah <%@ Directive %>.
  • Deklarasi : Untuk mendeklarasikan parameter variable dalam Java atau method yang akan digunakan di halaman web. Formatnya adalah <%! Deklarasi %>.
  • Expresi (Statement) : Untuk mendeklarasikan ekspresi Java yang ditangkap sebagai String. Formatnya adalah <%= Expresi %>.
  • Scriplet : Untuk menyisipkan fragment kecil source Java. Formatnya adalah <% Java Code %>.
  • Komentar : Untuk memberikan komentar. Formatnya adalah <%-- Komentar --%>.

Karena JSP merupakan file teks, maka dapat dibuat dalam editor teks. Sebagaimana layaknya Java Servlet, JSP harus dijalankan dalam web container.


Bean merupakan komponen yang berfungsi seperti program kecil yang Mandiri. Java Bean merupakan bentuk khusus dari Java Class yang portable, reusable dan Mandiri. Java Bean Componet Architecture menjelaskan bagaimana Beans dikonstruksi dan berinteraksi. Umumnya dalam menggunakan struts, bean digunakan untuk menangani temporer data container sebagai obyek transfer data (Data Transfer Object (DTO)).

Baca Lebih Lanjut......